Basapa merupakan sebuah ritual dalam bentuk ziarah secara serentak ke makam Syaikh Burhanuddin di Padang Sigalundi Ulakan. Biasanya ziarah bersama ini dilakukan pada hari Rabu setelah tanggal 10 Safar, dan oleh karena jatuh pada bulan Safar inilah ritual tersebut dinamakan basapa (bersafar). Penentuan acara basapa setelah tanggal 10 Safar sendiri berkaitan dengan hari yang diyakini sebagai tanggal wafatnya Syaikh Burhanuddin Ulakan, yaitu 10 Safar 1111 H/1691 M. Ritual ini Dimaksudkan untuk menghormati Syaik Burhanuddin Ulakan seorang tokoh ulama tarekat Syattariyyah, akan tetapi yang ikut andil dalam ritual ini bukan hanya pengikutnya, masyarakat umum pun boleh ikut serta dalam ritual ini..
Banyak pendapat yang berbeda dari para ulama mengenai tanggal yang dipakai untuk ritual ini, namun Akhirnya, dalam sebuah pertemuan, diputuskan bahwa ziarah ke makam Syaikh Burhanuddin Ulakan akan dilaksanakan secara rutin pada setiap hari Rabu setelah tanggal 10 Safar:
“…Kemudian, sepakatlah kerapatan untuk menetapkan ziarah bersama itu sekali setahun ke makam Syaikh Burhanuddin, disatukan bulannya dan harinya, yaitu hari Arba’ sesudah sepuluh Safar.…Maka dimulailah ziarah bersama itu yang pertama kalinya pada hari Arba’ 16 Safar tahun 1316 H…” (h. 116).
Semenjak itu, basapa menjadi ritual rutin tahunan yang tak pernah terlewatkan oleh para penganut tarekat Syattariyyah, karena bagi mereka, basapa menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual tarekat Syattariyyah itu sendiri. Dan dalam perkembangannya kemudian, basapa tidak hanya dihadiri oleh para penganut tarekat Syattariyyah dari Sumatra Barat saja, melainkan juga dari berbagai wilayah lain seperti Jambi, Palembang, Riau, Sumatra Utara, bahkan dari negeri jiran, seperti Malaysia.
Dalam pelaksanaannya sendiri, ritual basapa umumnya diisi dengan tiga kegiatan utama, yaitu:
pertama, ziarah dan berdoa di makam Syaikh Burhanuddin Ulakan;
kedua, salat, baik salat wajib maupun sunnat; dan
ketiga, zikir. Tetapi tidak sedikit pula yang mengisi —terutama pada hari-hari terakhir— ritual basapa ini dengan upacara menyendiri ke hutan-hutan dan ke bukit-bukit sunyi pada hari Rabu di akhir bulan Safar itu.

Namun dewasa kini, banyk orang yang menjadi salah kaprah, mereka menganggap makam Syeik Burhanuddin dapat memberikan rejeki maupun kesaktian,, tidak banyak yang melakukan aksi aksi gila demi mencapai tujuan tsb, diantaranya mereka sampai tidur bermalam malam di makam tersebut, Nauzubillahi Min Zaliq,,














