contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

Selasa, 05 Juli 2011

Basapa Sebagai Tujuan Wisata Islami Khas Pariaman



Basapa merupakan sebuah ritual dalam bentuk ziarah secara serentak ke makam Syaikh Burhanuddin di Padang Sigalundi Ulakan.  Biasanya ziarah bersama ini dilakukan pada hari Rabu setelah tanggal 10 Safar, dan oleh karena jatuh pada bulan Safar inilah ritual tersebut dinamakan basapa (bersafar). Penentuan acara basapa setelah tanggal 10 Safar sendiri berkaitan dengan hari yang diyakini sebagai tanggal wafatnya Syaikh Burhanuddin Ulakan, yaitu 10 Safar 1111 H/1691 M. Ritual ini Dimaksudkan untuk menghormati Syaik Burhanuddin Ulakan seorang tokoh ulama tarekat Syattariyyah, akan tetapi yang ikut andil dalam ritual ini bukan hanya pengikutnya, masyarakat umum pun boleh ikut serta dalam ritual ini..
Banyak pendapat yang berbeda dari  para ulama mengenai tanggal yang dipakai untuk ritual ini, namun Akhirnya, dalam sebuah pertemuan, diputuskan bahwa ziarah ke makam Syaikh Burhanuddin Ulakan akan dilaksanakan secara rutin pada setiap hari Rabu setelah tanggal 10 Safar:

“…Kemudian, sepakatlah kerapatan untuk menetapkan ziarah bersama itu sekali setahun ke makam Syaikh Burhanuddin, disatukan bulannya dan harinya, yaitu hari Arba’ sesudah sepuluh Safar.…Maka dimulailah ziarah bersama itu yang pertama kalinya pada hari Arba’ 16 Safar tahun 1316 H…” (h. 116).

Semenjak itu, basapa menjadi ritual rutin tahunan yang tak pernah terlewatkan oleh para penganut tarekat Syattariyyah, karena bagi mereka, basapa menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual tarekat Syattariyyah itu sendiri. Dan dalam perkembangannya kemudian, basapa tidak hanya dihadiri oleh para penganut tarekat Syattariyyah dari Sumatra Barat saja, melainkan juga dari berbagai wilayah lain seperti Jambi, Palembang, Riau, Sumatra Utara, bahkan dari negeri jiran, seperti Malaysia.

Dalam pelaksanaannya sendiri, ritual basapa umumnya diisi dengan tiga kegiatan utama, yaitu:
pertama, ziarah dan berdoa di makam Syaikh Burhanuddin Ulakan;
kedua, salat, baik salat wajib maupun sunnat; dan
ketiga, zikir. Tetapi tidak sedikit pula yang mengisi —terutama pada hari-hari terakhir— ritual basapa ini dengan upacara menyendiri ke hutan-hutan dan ke bukit-bukit sunyi pada hari Rabu di akhir bulan Safar itu.
       
             
Namun dewasa kini, banyk orang yang menjadi salah kaprah, mereka menganggap makam Syeik Burhanuddin dapat memberikan rejeki maupun kesaktian,, tidak banyak yang melakukan aksi aksi gila demi mencapai tujuan tsb, diantaranya mereka sampai tidur bermalam malam di makam tersebut, Nauzubillahi Min Zaliq,,

Tabuik Sebagai Tujuan Wisata Budaya Khas Pariaman


Siapa sih yang gak kenal ama yang ini,, apalagi sebagai orang Pariaman asli.. wajib tau akan tradisi ini. Karena kalo gak tau…SUNGGUH TERLALU…<div class="fullpost">

Pada posting kali ini,, Blog Piaman Bisa bakal neranggin semua tentang Pesta Tabuik, agar kita mengerti dan dapat menghargai peninggalan dari leluhur kita,, Sebagaimana kutipan dari Bung karno, “Bangsa Yang Maju,, Adalah Bangsa Yang Menghargai Sejarahnya”,karena itu wajib hukumnya bagi kita untuk melestarikan kebudayaan kebudayaan yang dimiliki negri ini khususnya Budaya yang berasal dari Pariaman,.

Dalam sejarah orang Pariaman, Tabuik awalnya diperkenalkan anggota pasukan Islam Thamil yang menjadi bagian pasukan Inggris saat penjajah Provinsi Bengkulu tahun 1826 di bawah pimpinan Jendral Thomas Stamfort Raffles. Saat itu setiap menyambut tahun baru, pasukan Thamil menggelar pesta Tabuik yang di Bengkulu bernama “Tabot”. Setelah perjanjian London 17 Maret 1829, antara pemerintah Inggris dan Belanda keluar keputusan Inggris harus meninggalkan Bengkulu dan menerima daerah jajahan Belanda di Singapura. 


Sebaliknya Belanda berhak atas daerah-daerah jajahan Inggris di Indonesia termasuk Bengkulu dan wilayah Sumatera lainnya. Berkaitan dengan perjanjian itu, serdadu Inggris angkat kaki dari Bengkulu, namun pasukan “Thamil” memilih bertahan dan melarikan diri ke Pariaman, Sumatera Barat yang saat itu terkenal sebagai daerah pelabuhan yang ramai di pesisir barat pulau Sumatera. Oleh Karena pasukan Thamil mayoritas muslim, mereka dapat diterima masyarakat Pariaman yang saat itu juga tengah dimasuki ajaran Islam. Terjadilah pembauran dan persatuan termasuk dalam bidang sosial-budaya. Salah satu pembauran budaya ditunjukkan dengan diperkenalkannya tradisi budaya Tabuik oleh pasukan Thamil kepada warga Pariaman dan diterima dengan baik yang akhirnya menjadi tradisi budaya dan tidak terpisahkan dari kehidupan warga Pariaman hingga saat ini. Makna pesta Tabuik dimaksudkan untuk memperingati kematian dua orang cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Hasan dan Hosen yang memimpin pasukan kaum muslim saat bertempur melawan kaum Bani Umayah dari Syria pimpinan Raja Yazid dalam perang Karbala di Mekkah.

Dalam pertempuran, Hosen wafat secara tidak wajar dan berkat kebesaran Allah SWT, jenazah Hosen tiba-tiba diusung ke langit menggunakan kendaraan “Bouraq” dengan peti jenazah yang disebut Tabot. Kendaraan Bouraq yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik menjadi bagian utama bangunan Tabuik yang diarak sepanjang Kota Pariaman dalam pesta Tabuik setiap memasuki tahun baru Islam hingga saat ini.
Tabuik kini sebuah benda berbentuk beranda bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, rotan dan bambu. Berat Tabuik kira-kira sekitar 500 kilogram dengan ketinggian 15 meter. Bagian bawah Tabuik berbentuk badan seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala “wanita” cantik berjilbab. Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas.

Kuda tersebut merupakan simbol kendaraan Bouraq yang dalam cerita zaman dulu adalah kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat. Pada bagian tengah Tabuik berbentuk gapura petak yang ukurannya makin ke atas makin besar dengan dibalut kain beludru dan kertas hias aneka warna yang ditempelkan dengan motif ukiran khas Minangkabau.

Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan “bungo salapan” (delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik. Pada bagian puncak Tabuik berbentuk payung besar dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih.

Di kaki Tabuik terdapat empat kayu balok bersilang dengan panjang masing-masing balok sekitar 10 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan “menghoyak” Tabuik yang dilakukan sekitar 50 orang dewasa.

Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang. Tabuik dibuat di rumah Tabuik secara bersama-sama dengan melibatkan para ahli budaya dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah untuk satu Tabuik.

Setelah Tabuik siap maka pada hari puncak digotong dan diarak di jalan-jalan utama dengan diiringi dentuman alat musik tambur dan atraksi musik gandang tasa yang disaksikan hingga ratusan ribu massa yang memadati tepi jalan di Kota Pariaman. Dua tabuik kemudian bertemu di Pantai Gandoriah Pariaman, lalu kembali dihoyak disaksikan ratusan ribu massa. Menjelang matahari terbenan, dua tabuik dibuang ke laut.

Maka dari itu kini tugas kita sebagai pemuda pemudi penerus perjuangan bangsa,, untuk melestarikan apa yang sudah di amanahkan oleh leluhur kita....</div>

Pariaman Tujuan Wisata Budaya yang Islami

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Followers

Jam Bara Kini?

Atribute

About Me

Foto saya
Alai Gelombang, Pariaman